Theresa May dapat dukungan menteri senior soal rancangan kesepakatan Brexit

KONTAN.CO.ID – LONDON. Perdana Menteri Inggris Theresa May memenangkan dukungan dari para menteri seniornya terkait rancangan kesepakatan pemisahan diri dari Uni Eropa pada hari Rabu lalu. Dengan dukungan ini, May mendapatkan angin segar dalam upayanya untuk mendapat persetujuan dari parlemen.

Setelah lebih dari dua tahun usai rakyat Inggris memberikan suaranya dalam referendum untuk meninggalkan Uni Eropa, Mei menyebut dirinya telah menyatukan kabinetnya yang sempat terbelah. Termasuk beberapa senior yang mendorong Brexit. 

“Keputusan kolektif yang diambil kabinet adalah pemerintah harus menyetujui rancangan kesepakatan,” katanya, setelah pertemuan selama lima jam seperti dikutip Reuters.

Sementara terkait masih maraknya unjuk rasa yang meneriakkan slogan anti-Brexit tak jauh dari kediamannya di Downing Street, dia mengatakan rancangan kesepakatan yang tebalnya mencapai 585 halaman, adalah opsi terbaik yang bisa dinegosiasikan.

Tidak ada menteri yang dilaporkan mengancam akan mengundurkan diri atas kesepakatan tersebut. Hal ini diharapkan akan memuaskan baik para pemilih Brexit maupun pendukung Uni Eropa dengan memastikan hubungan erat dengan kawasan tersebut setelah Inggris melepaskan diri pada 29 Maret nanti.

Namun pemimpin Inggris yang disebut-sebut sebagai yang terlemah dalam generasi ini menghadapi tantangan untuk mendorong kesepakatannya disetujui parlemen. Di mana para lawan politik diperkirakan akan menolak proposal kesepakatan, bahkan sebelum membacanya.

Brexit dinilai akan mendorong negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia ini ke dalam ketidakjelasan. Banyak yang khawatir langkah ini akan membagi blok barat karena akan berselisih dengan Amerika Serikat yang dipimpin Donald Trump dan meningkatnya ketegangan dengan Rusia dan China.

Pendukung Brexit mengakui ada kemungkinan dari efek negatif secara jangka pendek untuk ekonomi Inggris yang mencapai US$ 2,9 triliun. Khususnya terkait dampak kesepakatan tersebut yang akan membatasi akses Inggris ke negara-negara Uni Eropa.

Namun di sisi lain, dalam jangka panjang Inggris diyakini akan lebih makmur setelah keluar dari Uni Eropa, yang mereka gambarkan sebagai eksperimen Jerman yang gagal dalam melakukan integrasi di Eropa.

May tak menyebutkan tanggal pasti untuk pemungutan suara di parlemen, tetapi dia akan membutuhkan sekitar 320 suara dari total 650 anggota parlemen. Seorang anggota parlemen senior Eurosceptic mengatakan keputusan kabinet adalah keputusan mayoritas, bukan keputusan bulat.

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker merekomendasikan bahwa para pemimpin Uni Eropa saat ini harus melanjutkan pertemuan yang tertunda untuk memperjelas rencana perjanjian. Sejumlah diplomat menyebut pertemuan ini kemungkinan akan dilakukan pada 25 November.

Namun kepala perunding Uni Eropa Michel Barnier memperingatkan, upaya untuk memuluskan jalan keluar Inggris masih panjang dan bahkan berpotensi sulit. 
Sementara para penentang Brexit menilai Inggris akan kehilangan lebih banyak daripada yang mungkin bisa didapatkan akibat keluar dari pasar tunggal dan aliansi politik yang besar. Pemimpin Partai Buruh Oposisi Jeremy Corbyn menyebutnya sebagai “kesepakatan yang gagal”.

Partai Koalisi Demokratik Irlandia Utara (DUP) yang mendukung pemerintah May mengatakan tidak akan mendukung kesepakatan yang memperlakukan provinsi Inggris secara berbeda dari wilayah lain. “Jika dia memutuskan untuk melawan semua itu, maka akan ada konsekuensinya,” kata pemimpin DUP Arlene Foster.

Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan