Uncategorized

Pertamina: Harga DME bisa lebih murah dibandingkan LPG

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Pertamina, dan Air Product and Chemicals Inc sepakat membentuk perusahaan patungan atau joint venture untuk proyek hilirisasi batu bara atau gasifikasi batubara. Tujuannya kerjasama tersebut tidak lain ialah untuk penambahan nilai dari batubara berkalori rendah dan mengurangi impor Liquified Processed Gas (LPG) di tanah air.

Pabrik gasifikasi batubara tersebut akan mengubah batubara berkalori rendah yang selama ini belum dimanfaatkan dengan baik menjadi syngas hingga nantinya diproses menjadi produk jadi seperti dimethyleter (DME) yang digadang-gadang bisa menjadi pengganti LPG. Rencananya pabrik gasifikasi batubara itu akan dibangun di area pertambangan batubara milik Bukit Asam di Peranap, Riau.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan perusahaan patungan ini akan membuat pabrik yang menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun dari sekitar 9,2 juta ton batu bara berkalori rendah dibawah 3.000 kcal per tahun. Untuk informasi cadangan batubara milik Bukit Asam saat ini tercatat sebanyak 3,3 miliar ton.

Nicke menyatakan DME ini bisa digunakan sebagai pengganti LPG yang 6,8 juta metrik ton atau 73{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624} dari total konsumsi nasional masih diimpor dari sejumlah negara. “Oleh karena itu saya berani bilang harganya bisa lebih murah dari LPG, karena ini diproduksi di dalam negeri tidak impor, ini bisa memperbaiki neraca perdagangan Indonesia menjadi lebih baik,” kata Nicke, Rabu (16/1).

Nicke tidak memberikan keterangan lebih lanjut selisih harga dari DME dan LPG. Pasalnya, untuk mengetahui hal tersebut diperlukan studi kelayakan atau feasibility study yang baru akan dimulai oleh Bukit Asam, Pertamina, dan Air Products and Chemical pada awal Februari 2019 mendatang.

Sambil menunggu penyeselesaian pabrik gasifikasi batubara di Peranap selesai, Nicke mengatakan Pertamina akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penggunaan DME sebagai pengganti LPG. Ia menilai masyarakat perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu DME, bagaimana bentuknya, dan keunggulannya sebagai pengganti LPG.

Menurut Nicke proyek gasifikasi batubara ini merupakan proyek yang sangat strategis bagi Indonesia. Karena melalui proyek ini Indonesia mempunyai kesempatan untuk meningkatkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasionalnya.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyebut proyek gasifikasi batubara ini tidak hanya menguntungkan Pertamina saja. Bukit Asam selaku pemasok batubara akan sangat diuntungkan dengan adanya proyek ini. Dengan adanya proyek ini maka Bukit Asam akan menjadi semakin efisien kedepannya.

Sebab batubara kalori rendah yang selama ini tidak dimanfaatkan karena harga jualnya yang rendah bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lebih bernilai tinggi. “Batubara kita yang berkalori rendah selama ini nggak terserap, selama ini hanya dimanfaatkan di mulut tambang saja dan sangat sedikit dan ternyata selama ini ada teknologi yang bisa mengubah batu bara ini menjadi gas,” kata Rini.

Lebih lanjut Rini mengatakan penggunaan DME sebagai pengganti LPG tentu membutuhkan penyesuaian. Namun, penyesuaian tersebut dinilai tidak banyak dan tidak membutuhkan biaya yang besar. ” Memang akan ada perombakan, tapi itu sangat minim, hanya tutupnya lebih kecil saja, bisa dilihat itu tabungnya masih sama,” kata dia.

Reporter: Rezha Hadyan
Editor: Yoyok

Reporter: Rezha Hadyan
Editor: Yoyok
Video Pilihan

You may also like...