Uncategorized

SMRU targetkan pertumbuhan kinerja operasional

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT SMR Utama Tbk berhasil meraih target pengupasan lapisan tanah penutup dan produksi batubara sepanjang tahun lalu. Direktur Keuangan SMR Utama, Ricky Kosasi mengatakan realisasi pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden removal sebanyak 33 juta bank cubic meter (bcm) dan produksi batubara sebesar 2,9 juta ton sepanjang 2018.

Pada 2019, emiten berkode saham SMRU ini membidik produksi batubara sebanyak 3,5 juta ton atau naik 20,69{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624} ketimbang realisasi pada tahun lalu. Sementara itu, untuk lapisan tanah penutup mereka menargetkan sebesar 38 juta bcm naik 15,15{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624} daripada capaian pada 2018.

Ricky mengungkapkan, harga batubara yang cenderung menurun beberapa bulan terakhir masih menjadi tantangan mereka pada tahun ini. Oleh karena itu, mereka kini fokus dalam meningkatkan kinerja operasional. Sejalan dengan rencana meningkatkan kinerja operasional, SMRU bakal menambah utilisasi alat berat yang mereka miliki hingga 85{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624} dan melakukan peremajaan alat berat.

Selain meningkatkan produktivitas alat berat, rupanya SMRU juga masih menadah tambahan kontrak dari PT Berau Coal. “Sampai dengan tahun lalu, kontrak yang sudah di tangan adalah PT Berau Coal dan PT Gunung Bara Utama. Saat ini kita sedang tahap negosiasi untuk penambahan lokasi kerja di PT Berau Coal,” ujarnya pada Kontan.co.id, Selasa (29/1).

Terakhir, kontrak yang mereka miliki sebesar 113,5 juta bcm. Sementara untuk kontrak dari PT Gunung Bara Utama, pada April silam perusahaan telah menandatangani kontrak dengan PT Gunung Bara Utama. Jangka dari kontrak ini selama lima tahun ke depan dengan besar 81 juta bank cubic meter untuk pengupasan lapisan tanah dan 5 juta ton batubara.

Sampai tutup 2018 SMRU menyerap belanja modal sebesar Rp 202 miliar dari total belanja modal yang disiapkan pada tahun lalu sebanyak Rp 300 miliar. Belanja modal itu digunakan untuk penambahan alat berat.

Sedangkan pada tahun ini, mereka mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 21 juta yang diperoleh dari dana internal SMRU dan pembiayaan lembaga keuangan. Ricky mengungkapkan belanja modal ini akan digunakan untuk peremajaan alat berat serta general overhaul.

Mengenai rencana ekspansi, Ricky bilang bahwa SMRU masih belum merencanakan ekspansi pada tahun ini. Mereka masih fokus untuk melakukan peremajaan alat berat sehingga mampu mencapai target operasioanal yang sudah ditetapkan. “Kita belum ada rencana ekspansi, masih fokus di bidang usaha sebagai kontraktor pertambangan,” imbunya.

Meski tak dapat menyampaikan target pertumbuhan pendapatan pada tahun ini, ia otimis memproyeksi bisnis pada 2019 bakal lebih baik seiring dengan adanya kontrak yang didapat. Sampai tutup tahun lalu, SMRU berhasil mengantongi pendapatan sebesar Rp 850 miliar. Sayang, ia belum dapat menyampaikan raihan bottom line selama 2018. “Untuk bottom line belum bisa dishare, masih dalam audit tahunan,” jelasnya.

Beradasarkan lapoan keuangan SMRU pada kuartal III 2018, rugi bersih mereka meningkat menjadi Rp 72,40 miliar ketimbang pada tahun sebelumnya hanya Rp 4,40 miliar. Hal ini, kata Ricky, lantaran besarnya biaya pemeliharaan, serta biaya yang sehubungan dengan dimulainya pekerjaan di lokasi baru PT Gunung Bara Utama. Tak hanya itu, peningkatan biaya keuangan, rugi kurs, dan amortisasi juga menjadi faktor rugi bersih mereka meningkat.

Reporter: Ika Puspitasari
Editor: Azis Husaini

Reporter: Ika Puspitasari
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan

You may also like...