Uncategorized

Aturan safeguard terbit, industri keramik tingkatkan utilisasi hingga 75{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624} tahun ini

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penerapan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) terhadap impor produk ubin keramik dinilai bakal mengungkit kinerja industri keramik lokal. Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/PMK.010/2018 yang ditetapkan pada 19 September 2018 dan diundangkan pada 21 September 2018 menetapkan bea masuk mulai berlaku 12 Oktober 2018 lalu.

Edy Suyanto, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengatakan bea masuk alias safeguard tersebut telah memberikan harapan baru bagi industri keramik di tahun ini. “Optimisme bagi pelaku industri keramik dalam negeri dan disambut dengan beberapa rencana ekspansi,” katanya kepada Kontan.co.id, Rabu (2/1).

Beberapa produsen keramik yang akan menambah kapasitas di tahun ini, kata Edy ialah Mulia group, PT Arwana Citra Mulia dan pabrik Jui Shin di Sumatera Utara. Menurut catatan Asaki, perusahaan-perusahan tersebut secara total akan menambah kapasitas produksi sebanyak 40 juta meter persegi.

Adapun kapasitas produksi nasional keramik pada tahun 2018 kemarin sebesar 580 juta meter persegi, dengan penambahan di tahun ini diproyeksikan kapasitas akan menjadi 620 juta meter persegi. Tahun 2019, diperkirakan tingkat utilisasi produksi nasional bakal menjadi 70{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624} sampai 75{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624}. Tahun 2018, menurut Edy rata-rata utilisasi produksi nasional masih dikisaran 65{d490e809631a2fc803a206c31eb24635c02b290d340c01dec30dcc0f188dc624}.

Adapun perkembangan efek dari safeguard yang terbaru, kata Edy, impor keramik sepanjang kuartal empat 2018 kemarin diperkirakan telah menurun. “Karena sebelum safeguard diberlakukan diketahui para importir telah menumpuk stock dlm jumlah cukup besar,” ujarnya.

Sayangnya mengenai detil jumlah penumpukan tersebut Asaki belum dapat merincikannya. Yang jelas setelah tertahannya laju keramik impor, industri keramik kembali mengharapkan agar ongkos produksi dapat turun dengan bersahabatnya harga gas.

“Kami tetap menagih janji Pemerintah utk menurunkan harga gas yang telah ditunggu-tunggu implementasinya sejak thn 2016. Harga gas yang berdaya saing itulah yang diperlukan oleh Industri keramik dalam negeri mengingat safeguard hanya berlaku tiga tahun, yakni dari 2018 sampai 2021,” urai Edy.

Selain melakukan ekspansi, perusahaan keramik lainnya tercatat tengah menghidupkan kembali lini produksinya yang sebelumnya vakum. Seperti PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) di tahun 2019 ini.

Teuku Yohas Raffli, Direktur Utama IKAI mengatakan, perseroan tengah menjajaki refurbishment mesin produksi keramik Essenza. “Agar awal tahun 2019 sudah bisa kembali produksi,” imbuhnya. IKAI diketahui memiliki kapasitas terpasang 4,3 juta meter persegi dalam setahun dengan tiga line production seluas 61.000 meter persegi.

Reporter: Agung Hidayat
Editor: Yoyok

Reporter: Agung Hidayat
Editor: Yoyok
Video Pilihan

You may also like...