Uncategorized

Sepanjang 2018, Freeport membukukan kenaikan produksi tembaga dan emas

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Freeport-McMoran (FCX) merilis laporan kuartal IV dan tahunan 2018. Dalam laporan itu, tambang dari Indonesia yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) masih menunjukkan kinerja yang memuaskan.

Produksi maupun penjualan tembaga dan emas dari hasil penambangan di Gresgerg, Papua tahun 2018 naik dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga akhir 2018, PTFI berhasil memproduksi tembaga sebanyak 1.160 juta pound, naik dari capaian  2017 yang sebesar 984 juta pound.

Mengutip siaran pers dari Freeport, Jumat (25/1), penjualan tembaga sepanjang tahun lalu sebanyak 1.130 juta pund, naik dibanding tahun 2017 yang hanya mencapai 981 juta pound. Hanya saja, harga rata-rata tahun 2017 sebesar US$ 3 per pon, lebih tinggi dibanding tahun 2018 yang ada di angka US$ 2.89 per pon.

Sementara untuk komoditas emas, produksi pada tahun 2018 sebesar 2.416.000 ounces, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 1.554,000 ounces. Angka penjualannya pun meningkat dari 1.540.000 ounces pada tahun 2017, menjadi 2.366.000 ounces sepanjang tahun 2018.

Meski, sama seperti tembaga, harga rata-rata emas pun menurun dari US$ 1.268 per ons pada tahun 2018, menjadi US$ 1.254 pada tahun 2018.

Namun, jika dilihat kinerja produksi selama tiga bulan terakhir di tahun 2018, angkanya menurun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang kuartal keempat 2018, produksi tembaga PTFI hanya 170 juta pounds, turun dibanding kuartal keempat 2017 yang sebesar 337 juta pounds.

Begitu juga dengan emas, dimana pada kuartal keempat 2017, PTFI mampu memproduksi 562 ribu ounces emas, yang turun hanya menjadi 327 ribu ounces emas dalam periode yang sama tahun 2018.

Angka penjualan pun ikut menyusut yakni sebesar 127 juta pon tembaga dan 261 ribu ons emas pada kuartak keempat tahun 2018. Lebih rendah dari penjualan kuartal empat tahun 2017 yang sebesar 351 juta pon tembaga dan 584 ribu ons emas.

Kondisi tersebut mencerminkan perkiraan kadar bijih yang lebih rendah dan penangguhan pengiriman pada akhir tahun 2018 karena ada perawatan tak terjadwal di PT Smelting. Terlebih, penurunan itu pun terjadi karena tambang Grasberg tengah bertransisi dari tambang terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah (underground mine).

Alhasil, penurunan itu pun akan terus terjadi pada tahun 2019 dan 2020 mendatang. “Produksi logam diperkirakan akan meningkat secara signifikan pada 2021 setelah periode ramp-up,” tulis keterangan tertulis tersebut. ¬†
Selama kuartal ketiga 2018, PTFI memulai kegiatan rekah hidrolik untuk mengelola tekanan batuan dan pra-kondisi tambang bawah tanah Deep Mill Zone (DMLZ). PTFI tengah mengembangkan fase akhir dari tambang terbuka Grasberg dan menargetkan transisi ke tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada paruh pertama 2019.
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Editor: Noverius Laoli

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan

You may also like...